Berita Uneng Takam
Seminar Nasional
“Penguatan Retorika Generasi Muda Kalimantan Tengah Melalui Kompetisi Pidato Berbasis Kearifan Lokal sebagai Strategi Pemberdayaan Budaya.”

Latar
belakang konseptual yang disampaikan dalam seminar nasional menegaskan bahwa retorika
adalah seni berbahasa yang membangun pikiran dan peradaban. Hal ini sejalan
dengan tujuan program untuk meningkatkan keterampilan retorika generasi muda
Kalimantan Tengah melalui kompetisi pidato berbasis kearifan lokal. Minimnya
wadah pengembangan komunikasi berbasis budaya memang menjadi tantangan, dan
kehadiran program ini menjawab kebutuhan tersebut dengan memberikan ruang
dialektika antara tradisi dan modernitas.
Posisi
generasi muda sebagai agen utama pewarisan budaya yang ditampilkan dalam
paparan latar belakang, secara langsung mendukung upaya memperkuat identitas
budaya daerah melalui penggunaan bahasa dalam pidato. Melalui pelatihan dan
kompetisi, peserta tidak hanya meningkatkan keterampilan berbicara hingga mencapai
target delapan puluh persen, tetapi juga meneguhkan identitas lokal sebagai
bagian dari jati diri mereka. Dengan demikian, program ini tidak berhenti pada
penguasaan teknis komunikasi, melainkan juga menjadi strategi pemberdayaan
budaya yang berkelanjutan.
Jika
dikaitkan dengan Asta Cita 4 (Penguatan Karakter dan Budaya Bangsa) dan Asta
Cita 5 (Penguatan Daya Saing Sumber Daya Manusia), maka kompetisi pidato
berbasis kearifan lokal adalah implementasi nyata dari kebijakan tersebut.
Karakter generasi muda dibangun melalui seni retorika yang sarat nilai,
sementara daya saing mereka diasah melalui kemampuan komunikasi publik yang
modern namun tetap berakar pada budaya. Program ini juga mendukung SDG 4
(Pendidikan Berkualitas), karena menghadirkan pelatihan terstruktur kepada
seratus peserta, sekaligus menghasilkan dokumentasi budaya dalam bentuk buku
dan video edukatif.
Dari
sisi akademik, semangat retorika yang disampaikan dalam seminar ini selaras
dengan IKU 2 (Mahasiswa Mendapatkan Pengalaman di Luar Kampus) dan IKU 6 (Hasil
Kerja Dosen Digunakan Masyarakat). Mahasiswa dilibatkan secara aktif dalam
pelatihan dan lomba, sementara dosen memperluas dampak penelitian dan
pengabdian melalui publikasi akademik, artikel ilmiah, buku ber-ISBN, HKI,
hingga publikasi di media sosial dan massa. Dengan demikian, program ini bukan
hanya membentuk generasi muda yang tangguh dalam komunikasi, tetapi juga
melahirkan agen pelestari budaya daerah. Dokumentasi dan publikasi yang
dihasilkan memperkuat posisi budaya Kalimantan Tengah di tingkat nasional
bahkan global, sesuai dengan semangat retorika sebagai pembangun peradaban.
Acara
yang berlangsung sangat interaktif menghadirkan deretan pemateri inspiratif. Dr.
Pernandes Arung dari Universitas Sulawesi Tenggara membuka wawasan dengan
materi “Retorika Bagi Generasi Muda dan Pemberdayaan Budaya”. Berbekal
latar belakang keilmuan linguistik terapan dan filsafat bahasa, ia menekankan
bahwa kompetisi pidato digambarkan sebagai ruang dialektika—tempat tradisi dan
modernitas bertemu, bernegosiasi, dan saling memperkaya. Di dalamnya, nilai
lokal bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan bekal untuk menghadapi
tantangan global. Retorika dalam kompetisi pidato ini ibarat arena latihan, di
mana generasi muda mengasah nalar, menguji keberanian, dan membangun karakter
kepemimpinan.
Selanjutnya
pemateri kedua, Pak Paul Diman, M.Pd., dosen PBSI UPR, menghadirkan perspektif
lokal dengan materi “Retorika: Dari Definisi Klasik hingga Perwujudannya
dalam Tradisi Lisan Dayak Maanyan serta Relevansinya bagi Generasi Muda.”
Melalui karya fenomenalnya tentang nyanyian Wadian dalam upacara Itatarung
Buntang, ia menunjukkan bagaimana tradisi lisan Dayak bukan sekadar
hiburan, melainkan arsip pengetahuan, sejarah, dan moralitas. Analogi ini
bagaikan semiotika: setiap syair dan irama menyimpan tanda yang menghubungkan
generasi masa lalu, kini, dan mendatang.
Sementara
itu, pemateri ketiga Dr. Linggua Sanjaya Usop, pakar Kajian Budaya lulusan
Universitas Udayana, menyajikan materi “Membumikan Kearifan Lokal Lewat
Retorika Generasi Emas Kalteng.” Ia mengibaratkan retorika sebagai
gravitasi budaya: daya tarik yang menjaga agar generasi emas Kalimantan Tengah
tidak tercerabut dari akarnya. Dalam pandangannya, berbicara dengan etika dan
mengedepankan moralitas (seperti huma betang) berarti menghadirkan kata-kata
yang tidak hanya logis, tetapi juga estetis dan etis, sehingga mampu membangun
literasi budaya yang membumi sekaligus membahana.
Kegiatan
ini dipandu langsung oleh Dr. Misnawati, S.Pd., M.Pd., yang juga sebagai ketua tim
peneliti hibah Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat dari Kemendikbudristek yang
diusulkan melalui aplikasi BIMA. Kehadirannya sebagai moderator menjadi simbol
bahwa retorika tidak berhenti di teori, tetapi bergerak menuju implementasi
nyata: menghidupkan kembali suara budaya dalam ruang publik.
Pembawa
Acara pada kegiatan tersebut adalah Ibu
Shanty Savitri, S.Si., M.Pd., dosen Pendidikan Biologi Universitas Palangka
Raya. Dengan gaya komunikatifnya, ia mampu membuat suasana seminar hidup,
seolah retorika bukan hanya bahan diskusi, tetapi denyut yang dirasakan
peserta. Dari forum ini, lahir keyakinan bahwa generasi muda Kalimantan Tengah
harus berani bicara dengan logika yang kuat, bahasa yang indah, dan jiwa yang
berakar pada kearifan lokal. Hanya dengan begitu, retorika tidak menjadi hiasan
kosong, tetapi menjadi strategi pemberdayaan budaya yang berkelanjutan.
