Langsung ke konten utama

Berita Uneng Takam

Berita Uneng Takam

Seminar Nasional

“Penguatan Retorika Generasi Muda Kalimantan Tengah Melalui Kompetisi Pidato Berbasis Kearifan Lokal sebagai Strategi Pemberdayaan Budaya.”


Kegiatan tersebut dilaksanakan Sabtu, 13 September 2025 (secara daring). Penyelenggara kegiatan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP Universitas Palangka Raya. Didukung oleh Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI) Kalimantan Tengah dan Pusat. Mitra, kegiatan ini adalah TBM Ransel Buku yang ada di Kelurahan Petuk Katimpun. Ketua ADOBSI Pusat Ibu Dr. Wati Istanti, M.Pd. juga memberikan sambutan dan menyambut positif acara Seminar Penguatan Retorikan yang banyak memberikan inspirasi untuk Generasi Kalimantan Tengah. Kegiatan Seminar Nasional tersebut dibuka oleh Bapak Iwan Fauzi, S.Pd., MA.


Derasnya arus globalisasi, retorika bukan sekadar seni bicara. Ia adalah strategi bertahan, jembatan identitas, dan bahkan mesin penggerak budaya. Itulah pesan yang mengemuka dalam Seminar Nasional “Penguatan Retorika Generasi Muda Kalimantan Tengah Melalui Kompetisi Pidato Berbasis Kearifan Lokal sebagai Strategi Pemberdayaan Budaya” yang digelar Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Palangka Raya.

Latar belakang konseptual yang disampaikan dalam seminar nasional menegaskan bahwa retorika adalah seni berbahasa yang membangun pikiran dan peradaban. Hal ini sejalan dengan tujuan program untuk meningkatkan keterampilan retorika generasi muda Kalimantan Tengah melalui kompetisi pidato berbasis kearifan lokal. Minimnya wadah pengembangan komunikasi berbasis budaya memang menjadi tantangan, dan kehadiran program ini menjawab kebutuhan tersebut dengan memberikan ruang dialektika antara tradisi dan modernitas.

Posisi generasi muda sebagai agen utama pewarisan budaya yang ditampilkan dalam paparan latar belakang, secara langsung mendukung upaya memperkuat identitas budaya daerah melalui penggunaan bahasa dalam pidato. Melalui pelatihan dan kompetisi, peserta tidak hanya meningkatkan keterampilan berbicara hingga mencapai target delapan puluh persen, tetapi juga meneguhkan identitas lokal sebagai bagian dari jati diri mereka. Dengan demikian, program ini tidak berhenti pada penguasaan teknis komunikasi, melainkan juga menjadi strategi pemberdayaan budaya yang berkelanjutan.

Jika dikaitkan dengan Asta Cita 4 (Penguatan Karakter dan Budaya Bangsa) dan Asta Cita 5 (Penguatan Daya Saing Sumber Daya Manusia), maka kompetisi pidato berbasis kearifan lokal adalah implementasi nyata dari kebijakan tersebut. Karakter generasi muda dibangun melalui seni retorika yang sarat nilai, sementara daya saing mereka diasah melalui kemampuan komunikasi publik yang modern namun tetap berakar pada budaya. Program ini juga mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), karena menghadirkan pelatihan terstruktur kepada seratus peserta, sekaligus menghasilkan dokumentasi budaya dalam bentuk buku dan video edukatif.

Dari sisi akademik, semangat retorika yang disampaikan dalam seminar ini selaras dengan IKU 2 (Mahasiswa Mendapatkan Pengalaman di Luar Kampus) dan IKU 6 (Hasil Kerja Dosen Digunakan Masyarakat). Mahasiswa dilibatkan secara aktif dalam pelatihan dan lomba, sementara dosen memperluas dampak penelitian dan pengabdian melalui publikasi akademik, artikel ilmiah, buku ber-ISBN, HKI, hingga publikasi di media sosial dan massa. Dengan demikian, program ini bukan hanya membentuk generasi muda yang tangguh dalam komunikasi, tetapi juga melahirkan agen pelestari budaya daerah. Dokumentasi dan publikasi yang dihasilkan memperkuat posisi budaya Kalimantan Tengah di tingkat nasional bahkan global, sesuai dengan semangat retorika sebagai pembangun peradaban.

Acara yang berlangsung sangat interaktif menghadirkan deretan pemateri inspiratif. Dr. Pernandes Arung dari Universitas Sulawesi Tenggara membuka wawasan dengan materi “Retorika Bagi Generasi Muda dan Pemberdayaan Budaya”. Berbekal latar belakang keilmuan linguistik terapan dan filsafat bahasa, ia menekankan bahwa kompetisi pidato digambarkan sebagai ruang dialektika—tempat tradisi dan modernitas bertemu, bernegosiasi, dan saling memperkaya. Di dalamnya, nilai lokal bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan bekal untuk menghadapi tantangan global. Retorika dalam kompetisi pidato ini ibarat arena latihan, di mana generasi muda mengasah nalar, menguji keberanian, dan membangun karakter kepemimpinan.

Selanjutnya pemateri kedua, Pak Paul Diman, M.Pd., dosen PBSI UPR, menghadirkan perspektif lokal dengan materi “Retorika: Dari Definisi Klasik hingga Perwujudannya dalam Tradisi Lisan Dayak Maanyan serta Relevansinya bagi Generasi Muda.” Melalui karya fenomenalnya tentang nyanyian Wadian dalam upacara Itatarung Buntang, ia menunjukkan bagaimana tradisi lisan Dayak bukan sekadar hiburan, melainkan arsip pengetahuan, sejarah, dan moralitas. Analogi ini bagaikan semiotika: setiap syair dan irama menyimpan tanda yang menghubungkan generasi masa lalu, kini, dan mendatang.

Sementara itu, pemateri ketiga Dr. Linggua Sanjaya Usop, pakar Kajian Budaya lulusan Universitas Udayana, menyajikan materi “Membumikan Kearifan Lokal Lewat Retorika Generasi Emas Kalteng.” Ia mengibaratkan retorika sebagai gravitasi budaya: daya tarik yang menjaga agar generasi emas Kalimantan Tengah tidak tercerabut dari akarnya. Dalam pandangannya, berbicara dengan etika dan mengedepankan moralitas (seperti huma betang) berarti menghadirkan kata-kata yang tidak hanya logis, tetapi juga estetis dan etis, sehingga mampu membangun literasi budaya yang membumi sekaligus membahana.

Kegiatan ini dipandu langsung oleh Dr. Misnawati, S.Pd., M.Pd., yang juga sebagai ketua tim peneliti hibah Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat dari Kemendikbudristek yang diusulkan melalui aplikasi BIMA. Kehadirannya sebagai moderator menjadi simbol bahwa retorika tidak berhenti di teori, tetapi bergerak menuju implementasi nyata: menghidupkan kembali suara budaya dalam ruang publik.

Pembawa Acara pada kegiatan  tersebut adalah Ibu Shanty Savitri, S.Si., M.Pd., dosen Pendidikan Biologi Universitas Palangka Raya. Dengan gaya komunikatifnya, ia mampu membuat suasana seminar hidup, seolah retorika bukan hanya bahan diskusi, tetapi denyut yang dirasakan peserta. Dari forum ini, lahir keyakinan bahwa generasi muda Kalimantan Tengah harus berani bicara dengan logika yang kuat, bahasa yang indah, dan jiwa yang berakar pada kearifan lokal. Hanya dengan begitu, retorika tidak menjadi hiasan kosong, tetapi menjadi strategi pemberdayaan budaya yang berkelanjutan.

Postingan populer dari blog ini

Seminar

Link Pendaftaran:  https://forms.gle/rJbUYj9tdGomDEes5 Link bergabung ke grup WA:  https://chat.whatsapp.com/FYSxsgiXL8MADgmrFhTWL1 Susunan acara:  https://drive.google.com/file/d/1lkDqjlgLDVp8nbcUG2_T6P2e09mkgtpM/view?usp=sharing

Pelatihan

 Pelatihan